Surabaya, KABARGRESS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur merilis Berita Resmi Statistik (BRS) Juni 2026 yang memuat perkembangan sejumlah indikator strategis daerah, mulai dari inflasi, nilai tukar petani, ekspor-impor, pariwisata hingga sektor transportasi. Pemaparan data disampaikan oleh Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati, MM, dalam agenda rilis resmi yang digelar pada Selasa, (02/06/26).
Dalam pemaparannya, Herum Fajarwati menjelaskan bahwa kondisi perekonomian Jawa Timur menunjukkan dinamika yang beragam. Beberapa sektor mengalami pertumbuhan positif, sementara sektor lain masih menghadapi tantangan akibat perubahan permintaan pasar dan mobilitas masyarakat.
BPS mencatat pada Mei 2026 terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 3,49 persen di Jawa Timur dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,83.
Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,43 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah, makanan, minuman dan tembakau 1,57 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,75 persen, transportasi 0,41 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 0,23 persen, pendidikan: 0,14 persen.
Adapun inflasi tertinggi di Jawa Timur terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 5,12 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Tulungagung sebesar 2,84 persen.
Perkembangan inflasi tahunan Jawa Timur menunjukkan tren fluktuatif. Setelah mencapai 4,88 persen pada Februari 2026, inflasi turun menjadi 2,85 persen pada April 2026 dan kembali meningkat menjadi 3,49 persen pada Mei 2026.
Pada sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur Mei 2026 tercatat sebesar 120,33, atau naik 3,32 persen dibandingkan April 2026.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 125,84, meningkat 3,24 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP dipengaruhi oleh, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 3,76 persen, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,43 persen, Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,50 persen.
Berdasarkan subsektor, kenaikan NTP tertinggi terjadi pada, Hortikultura 11,77 persen, tanaman pangan 2,67 persen, peternakan 0,84 persen.
Sedangkan subsektor yang mengalami penurunan yakni, tanaman perkebunan rakyat 1,05 persen, perikanan 1,08 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga yang diterima petani antara lain bawang merah 11,56 persen, bakalan sapi 5,40 persen dan cabai rawit 16,33 persen.
BPS juga melaporkan bahwa nilai ekspor Jawa Timur selama periode Januari–April 2026 mencapai USD 8,52 miliar, meningkat 2,57 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai impor Jawa Timur tercatat USD 10,39 miliar, naik 7,31 persen dibanding Januari–April 2025.
Untuk sektor migas, ekspor migas Januari–April 2026 sebesar USD 0,15 miliar, Impor migas sebesar USD 1,65 miliar. Sedangkan sektor nonmigas, ekspor nonmigas mencapai USD 8,38 miliar Impor, nonmigas sebesar USD 8,74 miliar.
Negara tujuan ekspor nonmigas yang memberikan surplus terbesar bagi Jawa Timur selama Januari–April 2026 yaitu, Amerika Serikat: USD 733,61 juta, Jepang: USD 506,39 juta dan Malaysia: USD 314,80 juta.
Sementara negara penyumbang defisit nonmigas terbesar adalah, Tiongkok: USD 1,224 miliar, Brasil: USD 369,75 juta dan Argentina USD 261,77 juta.
Sektor pariwisata menunjukkan perkembangan positif. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Timur pada April 2026 mencapai 31.339 kunjungan, meningkat 26,37 persen dibanding April 2025 yang tercatat sebanyak 24.800 kunjungan.
Wisatawan mancanegara yang datang ke Jawa Timur didominasi oleh, Tiongkok 36,46 persen, Malaysia 20,30 persen, Singapura 6,55 persen, Thailand 5,66 persen, Taiwan 1,86 persen.
Namun demikian, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mengalami penurunan. Pada April 2026 tercatat 15,40 juta perjalanan, turun 38,95 persen dibanding April 2025 yang mencapai 25,23 juta perjalanan.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jawa Timur pada April 2026 mencapai 46,80 persen, turun 3,01 poin dibanding April 2025.
Meski demikian, dibandingkan bulan sebelumnya, TPK hotel berbintang mengalami kenaikan 3,38 poin, sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya meningkat 3,12 poin menjadi 22,59 persen.
Rata-rata lama menginap tamu pada hotel berbintang tercatat 1,35 malam, naik tipis 0,02 poin dibanding bulan sebelumnya.
Pada sektor transportasi, jumlah penumpang penerbangan domestik yang berangkat pada April 2026 mencapai 498,38 ribu orang, sementara penumpang datang sebanyak 400,79 ribu orang.
Untuk penerbangan internasional, Penumpang datang 97,15 ribu orang, Penumpang berangkat 85,61 ribu orang. Angkutan laut mencatat, Penumpang berangkat 250,46 ribu orang, Penumpang datang 146,38 ribu orang.
Sementara itu, jumlah penumpang kereta api pada April 2026 mencapai 2,46 juta orang, sedikit menurun dibanding Maret 2026 yang mencapai 2,58 juta orang.
Selain mobilitas penumpang, aktivitas logistik juga tetap tinggi. Pada April 2026, muat barang domestik melalui transportasi udara mencapai 3,72 ribu ton, sedangkan aktivitas bongkar barang domestik mencapai sekitar 40,2 ribu ton.
Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati, MM, menegaskan bahwa seluruh indikator yang dirilis dalam Berita Resmi Statistik menjadi gambaran kondisi terkini perekonomian dan sosial Jawa Timur.
Menurutnya, data statistik tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi maupun masyarakat dalam menyusun kebijakan, strategi pembangunan, serta langkah-langkah penguatan ekonomi daerah di tengah dinamika global dan nasional yang terus berkembang. (Ro)
Reviewed by KabarGress.com
on
Juni 02, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: