Mahasiswa KKN UNS Gelar "SAT-SET BANGGLE", Latih Kader dan Pemuda Desa Tanggap Kegawatdaruratan Medis
Blitar, kabargress.com – Salah satu persoalan yang kerap luput dari perhatian, namun berdampak fatal, adalah ketidaksiapan masyarakat menghadapi situasi gawat darurat medis. Bayangkan saja, serangan jantung mendadak atau insiden tersedak (choking) bisa menimpa siapa saja, kapan saja—di tengah arisan, saat makan bersama, atau di jalanan desa yang sepi. Sayangnya, kepanikan seringkali menjadi respons utama. Tindakan keliru seperti mengerubungi korban pingsan atau memberi minum pada orang tersedak masih dianggap hal lumrah, padahal tindakan ini justru bisa memperburuk keadaan dan menghilangkan "waktu emas" (golden period) penyelamatan nyawa. Menghadapi tantangan ini, edukasi dan keberanian bertindak menjadi kunci penting agar masyarakat bisa menjadi penolong pertama yang sigap sebelum bantuan medis tiba.
Berangkat dari keresahan tersebut, mahasiswa KKN UNS Kelompok [Isi Nomor Kelompok] hadir membawa solusi aplikatif bagi warga Desa Banggle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, 27 Januari 2026. Melalui program bertajuk "SAT-SET BANGGLE: Satuan Siap Emergency & Tanggap", mereka mengajak elemen strategis desa—mulai dari Kader Kesehatan, Fatayat NU, hingga Karang Taruna—untuk menyulap rasa takut menjadi keberanian bertindak melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Berawal dari keprihatinan terhadap minimnya pengetahuan pertolongan pertama di desa, Tim KKN UNS hadir membawa metode edukasi yang "membumi". Melalui pelatihan ini, para mahasiswa ingin mengajak masyarakat untuk lebih percaya diri menjadi garda terdepan keselamatan. Tujuannya sederhana namun bermakna, yaitu mengubah warga yang tadinya awam dan panik, menjadi agen penyelamat yang sat-set (cekatan). Sasaran utama kegiatan ini adalah 65 warga yang terdiri dari kader dan pemuda desa, mengingat merekalah yang paling sering bersinggungan langsung dengan aktivitas warga dan paling cepat merespons kejadian di lingkungan sekitar.
Selama ini, insiden medis mendadak sering dianggap sebagai "nasib" yang hanya bisa ditangani dokter. Namun, Tim KKN UNS ingin menunjukkan bahwa tangan warga biasa pun bisa menyambung nyawa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa memperkenalkan rumus sederhana yang mudah diingat, yakni "3T" (Tempat Aman, Tepuk Sadar, Teriak Bantuan) untuk kasus pingsan/henti jantung, serta metode "5 Tepuk, 5 Peluk" (Back blows & Heimlich maneuver) untuk kasus tersedak . Di tangan warga yang terlatih, insiden yang semula mengerikan kini bisa ditangani dengan tenang dan prosedur yang tepat.
Pelaksanaan program diawali dengan sesi sosialisasi mengenai tanda-tanda kegawatdaruratan yang sering terjadi di rumah tangga. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi praktik langsung. Berbeda dengan penyuluhan biasa, mahasiswa KKN UNS membawa alat peraga berupa manekin RJP agar warga bisa merasakan langsung sensasi melakukan pijat jantung (hands-only CPR).
Sepanjang pelatihan berlangsung, para peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap setiap tahapan yang didemonstrasikan oleh tim KKN. Antusiasme terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan serta keterlibatan aktif peserta dalam proses praktik. Suasana semakin hidup ketika sesi Simulasi Berhadiah (Roleplay) dimulai. Para ibu kader dan pemuda Karang Taruna dengan penuh semangat berakting menyelesaikan skenario kasus nyata—seperti menolong korban tersedak bakso atau serangan jantung saat arisan—dengan langkah-langkah yang telah diajarkan . Gelak tawa berpadu dengan keseriusan belajar menciptakan suasana edukasi yang menyenangkan namun tetap berbobot.
“Saya senang ada kegiatan pelatihan seperti ini. Selain menambah wawasan, kami jadi tahu ternyata menolong orang pingsan tidak boleh asal, ada tekniknya. Jadi lebih berani kalau nanti ada kejadian di posyandu atau di rumah," tutur salah satu Kader Kesehatan Desa Banggle yang mengikuti pelatihan tersebut.
Lebih dari itu, kegiatan ini mencerminkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu menerjemahkan ilmu medis yang rumit menjadi keterampilan praktis bagi masyarakat. Program kerja "SAT-SET BANGGLE" ini menjadi jendela wawasan bagi masyarakat Desa Banggle untuk lebih peduli terhadap keselamatan sesama. Harapannya, setelah KKN usai, warga Desa Banggle dapat meneruskan semangat ini secara mandiri, menjadikan desa mereka sebagai kawasan yang tanggap darurat. Karena sesungguhnya, perubahan besar dimulai dari langkah kecil, seperti keberanian sepasang tangan warga untuk menolong tetangganya. (Tim)
Reviewed by KabarGress.com
on
Februari 17, 2026
Rating:


Tidak ada komentar: