Surabaya, kabargress.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mematangkan rencana pembangunan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) sebagai transportasi publik berbasis Green Energy di kawasan Surabaya Raya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono, mengatakan bahwa kontrak Detail Engineering Design (DED) untuk SRRL direncanakan ditandatangani pada akhir Januari 2026.
“Untuk desain perencanaan terkait koridor 1A dan 1B, akhir bulan ini akan ditandatangani oleh Satker Ditjen KA Kementerian Perhubungan di Jakarta,” kata Nyono. Hal tersebut diungkapkan usai kunjungan Duta Besar Jerman di Gedung Negara Grahadi, Jumat (9/1/2026).
Ia menegaskan, SRRL merupakan proyek pemerintah pusat yang dijadikan percontohan pengembangan transportasi publik berbasis energi hijau di enam kota besar Indonesia, termasuk Surabaya Raya.
“Surabaya Raya ini lebih cepat, lebih agresif untuk bisa kita realisasikan. Mudah-mudahan kontrak fisiknya sesuai jadwal, insya Allah tahun 2027. 2027-2028 kita sudah akan melihat pergerakan atau pembangunan fisik daripada kereta listrik yang berbasis green energy,” ujarnya.
Nyono menjelaskan, SRRL akan menggunakan tenaga listrik dan tidak lagi berbahan bakar solar. “Ini nanti yang berwawasan yang berbasis lingkungan, jadi tidak pakai bahan bakar solar tapi bahan bakar listrik,” katanya.
Pada tahap awal, pembangunan akan difokuskan pada segmen 1A yang menghubungkan Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo. Sementara segmen 1B dari Gubeng menuju Pasar Turi akan direalisasikan kemudian.
“Segmen 1B masih ada persoalan terkait pembebasan lahan dan relokasi warga di sekitar kanan kiri jalur kereta api,” jelas Nyono.
Ia menambahkan, proyek SRRL menggunakan konsep jalur ganda (Double Track) dengan pelebaran ke samping, bukan jalur layang. “Ini at grade tidak ke atas, tapi pelebaran samping menambahi satu trek lagi untuk kereta listrik kota ini SRRL,” imbuhnya.
Tahap pertama SRRL diperkirakan mencapai Rp5,4 triliun yang telah diteken melalui kerja sama Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan KfW Jerman.
Nyono menambahkan, Sidoarjo menjadi prioritas utama karena pergerakan aglomerasi harian mencapai sekitar 300 ribu orang per hari, disusul Gresik dengan sekitar 250 ribu orang per hari
"Jadi dua kota di Gerbangkertosusila yang paling besar adalah satu Sidoarjo, yang kedua adalah Gresik," tambahnya.
Ke depan, SRRL direncanakan memiliki tiga koridor utama, yaitu:
1. Koridor 1A–1B: Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo dan Gubeng–Pasar Turi.
2. Koridor 2: Pasar Turi–Gresik–Lamongan–Babat.
3. Koridor 3: Wonokromo–Sidoarjo–Mojokerto.
(Ci)
Reviewed by KabarGress.com
on
Januari 10, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: