KabarGRESS.com | Jadikan yang Terdepan

test

MERDEKA DI GANG-GANG RAKYAT, TERJAJAH DI RUANG-RUANG KEKUASAAN


Oleh: Mas Hery 


Agustus kembali datang. Di sudut-sudut kampung, suara rapat RT dan RW mulai terdengar. Buku kas dibuka, kalkulator dinyalakan, dan secarik kertas berisi daftar kebutuhan diedarkan dari tangan ke tangan. Berapa harga bendera? Berapa umbul-umbul? Berapa biaya lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, pentas seni, hingga tasyakuran? Semua dihitung dengan teliti karena setiap rupiah berasal dari keringat warga.

Ironisnya, rapat itu berlangsung ketika harga kebutuhan hidup belum benar-benar bersahabat. Banyak keluarga masih menahan keinginan membeli sesuatu yang baru. Dompet mereka tipis, tetapi rasa cintanya kepada Indonesia tetap tebal. Mereka rela menyisihkan sebagian penghasilan demi memastikan Merah Putih berkibar di depan rumahnya.

Di republik ini, ternyata rakyat kecil memiliki cara yang sangat sederhana untuk mencintai negaranya. Mereka tidak membutuhkan kamera televisi, panggung megah, atau pidato berapi-api. Cukup sebatang bambu, sehelai bendera, dan semangat gotong royong yang tidak pernah lekang dimakan zaman.

Sementara itu, di tempat lain, negeri ini juga memiliki "perlombaan" yang tidak pernah masuk agenda peringatan 17 Agustus. Perlombaan mengakali anggaran. Perlombaan memperkaya diri. Perlombaan mencari celah hukum. Perlombaan mempertahankan kursi kekuasaan. Anehnya, peserta lomba ini sering memakai jas rapi, berbicara tentang pengabdian, dan gemar mengucapkan kata "demi rakyat".

Betapa sarkastiknya kenyataan ini. Rakyat patungan membeli bendera. Sebagian elite justru patungan membangun alasan ketika uang negara hilang. Rakyat bergotong royong menghias kampung. Sebagian pejabat sibuk menghias citra agar tampak bersih meski kepercayaan publik telah kusam.

Di gang-gang sempit, anak-anak tertawa mengikuti lomba. Di ruang-ruang berpendingin udara, angka-angka dalam dokumen anggaran terkadang berubah menjadi ladang permainan yang nilainya jauh lebih besar daripada hadiah seluruh lomba 17 Agustus di sebuah desa.

Bahkan kadang terasa, bambu penyangga bendera di depan rumah warga lebih kokoh daripada sebagian integritas para pemegang amanah. Bendera yang berkibar diterpa angin lebih tegak daripada nurani yang diterpa godaan kekuasaan.

Setiap Agustus kita selalu diajak mengenang jasa para pahlawan. Namun, penghormatan kepada pahlawan tidak cukup hanya dengan mengheningkan cipta. Penghormatan yang sesungguhnya adalah menjaga amanah yang mereka wariskan. Sebab para pejuang dahulu mempertaruhkan nyawa agar negeri ini bebas dari penindasan, bukan agar generasi penerusnya bebas menindas uang rakyat.

Korupsi adalah penjajah dengan wajah baru. Ia tidak datang membawa meriam dan senapan. Ia datang membawa proposal, stempel, tanda tangan, dan berbagai dalih yang terdengar resmi. Dampaknya tetap sama: rakyat kehilangan haknya.

Mungkin inilah ironi terbesar republik ini. Yang miskin terus mengumpulkan recehan untuk merayakan kemerdekaan. Yang diberi amanah mengelola triliunan rupiah justru ada yang tergoda menggerogotinya. Yang hidup pas-pasan masih mampu berkata, "Ini untuk Indonesia." Sebaliknya, ada yang hidup berkecukupan tetapi masih bertanya, "Apa lagi yang bisa saya ambil?"

Kemerdekaan akhirnya bukan sedang diuji di lapangan upacara. Ia sedang diuji di meja-meja pengadaan, di ruang penyusunan anggaran, di balik pintu-pintu birokrasi, dan di hati setiap pemegang kekuasaan. Di sanalah Merah Putih sesungguhnya dipertaruhkan setiap hari.

HUT RI ke-81 semestinya tidak berhenti pada gegap gempita seremoni. Yang lebih penting adalah keberanian membangun budaya malu terhadap korupsi, menumbuhkan integritas, dan mengembalikan kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.

Karena bangsa ini tidak akan kekurangan orang yang sanggup memasang bendera. Bangsa ini justru sedang membutuhkan lebih banyak orang yang sanggup menjaga kehormatan bendera itu.

Jangan sampai setiap Agustus rakyat terus mengibarkan Merah Putih di depan rumah, sementara di belakang layar masih ada yang diam-diam menurunkan martabat republik demi kepentingan pribadi. Sebab bila itu terus terjadi, yang berkibar hanya kainnya, sedangkan makna kemerdekaannya perlahan tercabik oleh keserakahan.


Penulis pemerhati sosial masyarakat tinggal di Sidoarjo

MERDEKA DI GANG-GANG RAKYAT, TERJAJAH DI RUANG-RUANG KEKUASAAN MERDEKA DI GANG-GANG RAKYAT, TERJAJAH DI RUANG-RUANG KEKUASAAN Reviewed by KabarGress.com on Juli 28, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Sidebar Ads

Diberdayakan oleh Blogger.