Mempertemukan pelaku usaha kopi dengan calon-calon buyer baik dari dalam negeri maupun luar negeri
Surabaya, KABARGRESS.COM - Business Matching Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2026 telah berlangsung di Hotel Kampi Surabaya, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan business matching bertujuan mempertemukan pelaku usaha kopi dengan calon-calon buyer baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim, Rifki Ismal, mengatakan konflik global seperti penutupan Selat Hormuz memang berdampak. Ongkos logistik dan asuransi ekspor ke Timur Tengah melonjak karena kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan. Waktu tempuh yang biasanya beberapa minggu kini bisa sampai 1 bulan.
“Tadi kami kumpulkan eksportir dan importir Jatim. Itu salah satu keluhan mereka. Biaya transportasi naik semua,” jelasnya.
Meski tekanan global tinggi, BI menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Inflasi Juni 2026 masih terkendali di level 3,3% yoy dan 0,3% mtm, masih dalam target 2,5% ±1%. "Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, Jawa Timur justru masih menunjukkan ketangguhan. Pertumbuhan ekonomi Jatim kuartal I/2026 tercatat 5,96%, jauh di atas rata-rata nasional 5,61%," tandasnya.
Karena itu, BI bersama Kementerian, Pemprov, dan Pemkot kini fokus menggenjot ekonomi riil domestik melalui produk unggulan daerah. Salah satunya kopi. “Terlepas dari kondisi ekonomi global yang penuh tekanan, Indonesia itu punya some unique. Kita punya produk unggulan yang tidak ada lawannya di dunia. Kopi, teh, cokelat, rempah-rempah,” kata Rifki.
Menurutnya, jika bicara economic competitiveness, keunggulan negara ada pada keunikan. Jawa merupakan gudangnya komoditas kopi. Produksi kopi Jawa Timur saja mencapai 49.000 ton per tahun, Jawa Tengah 32.000 ton, Jawa Barat 28.000 ton. Total Jawa lebih dari 11.000 ton. "We have top of coffee,” tandasnya.
Untuk mendorong itu, BI membawa sekitar 50 UMKM binaan dari seluruh Jawa ke JCFF 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya. Bukan hanya pameran, tapi juga ada kegiatan business matching yang mempertemukan pelaku ushaa kopi dengan calon-calon buyer dari dalam negeri maupun luar negeri, serta ada kegiatan kompetisi, hingga hiburan “Kopi Bernada”.
Rifki menekankan, Indonesia saat ini masih menjadi 4 besar produsen kopi dunia bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Tapi ekspornya masih didominasi green bean atau biji mentah.
Padahal, potensi permintaan dari buyer global sangat besar. Mengutip data Grand View Research, ukuran pasar kopi global pada 2024 bernilai US$249,3 miliar, dan diproyeksikan tumbuh dari US$263,5 miliar di 2026 menjadi US$380,3 miliar pada 2033, dengan CAGR (pertumbuhan rata-rata tahunan) sebesar 5,4% 2026 hingga 2033.
Eropa memegang pangsa terbesar sebesar 32,5% pasar global pada 2025. Kopi adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, dan popularitasnya terus meningkat, terutama di pasar negara berkembang seperti Asia Pasifik.
“Yang kita harapkan tidak hanya memproduksi, tapi ekspornya naik kelas. Sudah berupa kopi olahan dengan berbagai macam seni dan taste,” tegasnya.
Rifki juga menyebut kapasitas UMKM saat ini masih terbatas untuk memenuhi permintaan sebesar itu. Ke depan, BI mendorong dukungan pendanaan dari perbankan dan instrumen surat berharga agar produksi UMKM bisa naik dan menembus pasar ekspor.
“Bank Indonesia mendukung penuh pengembangan UMKM di bidang kopi, teh, cokelat, dan rempah. Ini kunci untuk menopang ekonomi nasional,” pungkas Rifki.
Dalam kesempatan yang sama, Founder Akademi Mudah Ekspor (AME), Fernanda Reza Muhammad menyebut, dalam kegiatan Business Matching JCFF 2026 ini diikuti 50 UMKM kopi, rempah dan cokelat serta buyer-buyer dari berbagai negara.
"Buyernya banyak dari domestik dan internasional. Kalau dari luar negeri itu ada yang dari Prancis, Nigeria, Jordan, Australia, Singapura, Malaysia, dan China. Mereka sangat kaget dan apresiasi dengan variasi kopi yang ada di Indonesia mulai dari Sulawesi, Ambon, Papua, Bali Nusa Tenggara dan ada juga yang dari Sumatra. Apalagi lihat hasil cupping score-nya bagus dan rasanya enak. Mereka sangat antusias," ujarnya.
Fernanda pun mengajak pemerintah maupun petani Indonesia untuk menggencarkan sektor perkebunan kopi mengingat potensi pasar global yang menjanjikan, baik dari sisi kuantitas maupun harga jual yang menarik.
"Ayo sekarang kita menanam kopi karena produktivitas kopi kita berkurang akibat lahannya berkurang, berubah fungsi, dan lainnya. Padahal kopi adalah salah satu komunitas yang sekarang trennya meningkat. Orang China pun yang dulu minum teh sekarang beralih ke kopi. Orang Mesir Timur Tengah yang dulu minumnya teh juga ke kopi, termasuk orang Indonesia semakin banyak yang minum kopi," tutupnya.
Muhammad Ramadhan, salah seorang buyer dari Yordania mengungkapkan bahwa kopi Indonesia di Yordania memang sudah mulai dikenal. Selama ini pasokan kopi di Yordania banyak didatangkan dari Brazil, namun beberapa kafe/kedai sudah mulai banyak menjual kopi Indonesia khususnya Sumatra.
"Semoga melalui event ini, kita bisa membawa sample kopi ke Jordan dan pasar disana bisa suka, termasuk ke negara-negara sebelahnya. Dari kegiatan ini kami dari Yordania mau trial order sekitar 500 kg hingga 1 ton kopi. Harapannya ke depan bisa kontinyu dan bertambah," ujar Ramadhan yang merupakan orang Indonesia dan menjadi diaspora di Yordania sejak 2014. (Ro)
Reviewed by KabarGress.com
on
Juli 17, 2026
Rating:




Tidak ada komentar: