Surabaya, KABARGRESS.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur resmi meluncurkan Program Beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Ruang Rapat Hayam Wuruk, Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Rabu (10/6/2026).
Sebanyak 1.100 mahasiswa dan mahasiswi akan memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan pada jenjang Sarjana (S1/M1), Magister (S2/M2), hingga Doktor (S3). Para penerima beasiswa dapat menempuh pendidikan di 64 perguruan tinggi dan Ma'had Aly mitra di Jawa Timur, bahkan hingga Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, program tersebut merupakan upaya berkelanjutan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jawa Timur melalui perluasan akses pendidikan bagi kalangan santri.
"Ini kita mencoba terus menguatkan kualitas SDM di Jawa Timur, diversifikasi akademik di Jawa Timur dengan memberikan akses para santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, program beasiswa bagi santri telah berjalan sejak era Gubernur Imam Utomo pada 2006, kemudian dilanjutkan pada masa Gubernur Soekarwo dengan fokus pada jenjang S1. Pada kepemimpinannya, cakupan program diperluas hingga jenjang S2, S3, serta beasiswa ke Mesir.
"Tahun ini yang baru lagi adalah santri-santri dari berbagai pondok pesantren juga mendapat kesempatan untuk bisa masuk pada program yang dalam payung STEM. STEM itu Sains, Teknologi, Engineering, Economic and Math," katanya.
Gubernur Khofifah berharap program STEM mampu memperkuat diversifikasi profesi berbasis pesantren sehingga lulusan pesantren tidak hanya berkiprah pada bidang keagamaan, tetapi juga pada sektor-sektor strategis lainnya.
"Program ini diharapkan bisa menguatkan diversifikasi profesi yang berbasis pesantren. Jadi memang kerja samanya adalah dengan pesantren-pesantren untuk bisa memberikan afirmasi pada diversifikasi profesi," tuturnya.
Sementara itu, Ketua LPPD Jawa Timur Abdul Halim Soebahar menjelaskan, kuota beasiswa STEM pada tahun ini terdiri atas 40 mahasiswa jenjang S1 dan 20 mahasiswa jenjang S2.
Adapun untuk program reguler, kuota beasiswa S1 masing-masing sebanyak 20 orang, S2 sebanyak 15 orang, dan S3 sebanyak 10 orang. Selain itu, terdapat kuota khusus 30 mahasiswa untuk program S2 di Universitas Al-Azhar.
"Jadi semua itu 1.100, termasuk juga di dalamnya itu untuk mahasiswa S2 Al-Azhar itu kuotanya 30," kata Abdul Halim.
Ia juga menyebutkan, tahun ini terdapat enam Ma'had Aly yang terlibat dalam program beasiswa. Untuk jenjang Marhalah Ula tersedia kuota 20 orang pada masing-masing lembaga, sedangkan Marhalah Tsaniyah memperoleh kuota 15 orang.
"Baru tahun depan itu ada M3 atau S3 khusus Ma'had Aly dan itu menjadi satu-satunya di Indonesia," ujarnya.
Abdul Halim menambahkan, jumlah perguruan tinggi yang mengakses program beasiswa terus bertambah. Di Madura, misalnya, perguruan tinggi yang sebelumnya hanya enam kini meningkat menjadi 12 kampus.
"Khusus tahun ini 64 perguruan tinggi. Sejak 2019 sampai sekarang sudah 150 perguruan tinggi termasuk Al-Azhar. Al-Azhar itu kita kerja sama mulai akhir 2021," ungkapnya.
Terkait beasiswa ke Universitas Al-Azhar, Abdul Halim menegaskan bahwa proses seleksinya cukup ketat. Calon penerima harus menguasai kitab kuning, memiliki kemampuan bahasa Arab, serta memenuhi persyaratan hafalan Al-Qur'an.
"Kalau S1 itu hafalan Quran cukup 5 juz, tapi kalau sudah S2 minimal lima belas juz, nanti selesai itu harus tiga puluh juz. Berarti lulusan Al-Azhar yang S2 semuanya itu sudah hafiz hafizah," pungkasnya. (Ci)
Reviewed by KabarGress.com
on
Juni 11, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: