KabarGRESS.com | Jadikan yang Terdepan

test

Ekonomi Jatim Bergerak Tak Seragam, Pertanian Menguat tetapi Ekspor Melemah


SURABAYA, KABARGRESS.COM – Perkembangan perekonomian Jawa Timur menunjukkan dinamika yang berbeda antarsektor sepanjang 2026. Sektor pertanian mencatatkan peningkatan produksi padi dan Nilai Tukar Petani (NTP). Namun, di sisi lain, perdagangan luar negeri menghadapi tekanan akibat penurunan ekspor dan peningkatan impor. Perkembangan pariwisata, inflasi, serta transportasi juga menunjukkan pergerakan yang beragam.

Gambaran tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, dalam kegiatan press release Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Jawa Timur, Senin (2/11/2026). Dalam kegiatan tersebut, Herum memaparkan perkembangan sejumlah indikator ekonomi Jawa Timur yang mencakup sektor pertanian, pariwisata, inflasi, NTP, perdagangan luar negeri, hingga transportasi.


Produksi Padi Jatim Diperkirakan Meningkat

Berdasarkan data BPS Jawa Timur, produksi padi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 10,61 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah tersebut meningkat 1,62 persen dibandingkan produksi tahun 2025 yang tercatat sebesar 10,44 juta ton GKG.

Peningkatan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luas panen. BPS Jawa Timur memperkirakan luas panen padi pada 2026 mencapai 1,85 juta hektare, meningkat 0,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,84 juta hektare.

Berdasarkan perkembangan bulanan yang dipaparkan dalam BRS, produksi padi tertinggi terjadi pada Maret 2026 dengan capaian 2,23 juta ton GKG. Setelah itu, produksi menurun menjadi 1,41 juta ton pada April dan 740 ribu ton pada Mei.

Produksi kembali meningkat pada Juni menjadi 920 ribu ton dan Juli sebesar 1,01 juta ton GKG. Selanjutnya, produksi menunjukkan kecenderungan menurun hingga diperkirakan mencapai 430 ribu ton pada Desember.

Meski demikian, data produksi September hingga Desember 2026 masih bersifat sementara. Sementara itu, angka luas panen untuk Oktober hingga Desember masih berupa potensi. Dengan demikian, angka produksi tahunan tersebut masih dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan data selanjutnya.


NTP Meningkat, tetapi Tidak Semua Subsektor Menguat

Pada indikator pertanian lainnya, BPS Jawa Timur mencatat NTP pada Oktober 2026 mencapai 123,63 atau meningkat 2,12 persen dibandingkan September 2026.

Kenaikan tersebut dipengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 2,49 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan lebih rendah, yakni sebesar 0,36 persen.

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Jawa Timur juga mengalami peningkatan 2,26 persen menjadi 128,42. Adapun indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) meningkat 0,22 persen.

Jika dilihat berdasarkan subsektor, peningkatan NTP tertinggi terjadi pada tanaman perkebunan rakyat sebesar 6,82 persen. Berikutnya, subsektor hortikultura meningkat 5,03 persen dan tanaman pangan sebesar 1,98 persen.

Namun, perkembangan tersebut tidak terjadi secara merata. NTP subsektor peternakan justru mengalami penurunan 0,79 persen, sedangkan subsektor perikanan turun 0,30 persen.

Data BPS juga menunjukkan sejumlah komoditas yang memengaruhi perubahan indeks harga yang diterima petani. Di antaranya tebu yang mengalami kenaikan harga 12,11 persen, jagung 6,67 persen, dan gabah 1,21 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran petani, beberapa komoditas juga mengalami kenaikan harga. Cabai merah tercatat meningkat 35,85 persen, tomat sayur 21,42 persen, dan beras 0,94 persen.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan NTP Jawa Timur tidak serta-merta mencerminkan kondisi yang sama pada seluruh subsektor pertanian. Perbedaan pergerakan harga komoditas dan biaya yang dibayar petani turut memengaruhi perkembangan indikator tersebut.


Inflasi Oktober Tercatat 0,07 Persen

Dari sisi perkembangan harga, BPS Jawa Timur mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (MtM) sebesar 0,07 persen pada Oktober 2026.

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (YtD) mencapai 2,14 persen. Adapun inflasi tahunan atau year-on-year (YoY) tercatat sebesar 3,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,61.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok dengan andil inflasi terbesar, yakni 1,30 persen. Kelompok transportasi menyusul dengan andil sebesar 0,62 persen.

Selain kedua kelompok tersebut, penyediaan makanan dan minuman atau restoran memberikan andil sebesar 0,30 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,24 persen.

Perkembangan inflasi tahunan selama 13 bulan terakhir juga menunjukkan pergerakan yang berfluktuasi. Angka tertinggi terjadi pada Februari 2026 sebesar 4,88 persen, sebelum turun menjadi 3,79 persen pada Maret dan 2,85 persen pada April.

Pada bulan-bulan berikutnya, inflasi kembali bergerak naik turun hingga mencapai 3,09 persen pada Oktober 2026.

Secara kewilayahan, Kota Madiun mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di Jawa Timur sebesar 3,50 persen dengan IHK 111,68. Sebaliknya, Kabupaten Banyuwangi menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 2,52 persen dan IHK 112,91.


Ekspor Menurun, Impor Meningkat

Berbeda dengan perkembangan sektor pertanian, perdagangan luar negeri Jawa Timur menunjukkan tekanan. Berdasarkan data perdagangan yang dipaparkan BPS, nilai ekspor Jawa Timur selama Januari hingga September 2026 mencapai USD 21,26 miliar.

Nilai tersebut mengalami penurunan 7,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sebaliknya, nilai impor justru meningkat 15,51 persen menjadi USD 24,89 miliar.

Perbedaan perkembangan ekspor dan impor tersebut membuat neraca perdagangan luar negeri Jawa Timur mengalami defisit sekitar USD 3,63 miliar selama Januari–September 2026.

Jika dirinci berdasarkan kelompok migas dan nonmigas, ekspor migas mengalami penurunan dari USD 460 juta pada Januari–September 2025 menjadi USD 210 juta pada periode yang sama tahun 2026.

Sementara itu, impor migas justru meningkat dari USD 3,59 miliar menjadi USD 4,44 miliar.

Pada kelompok nonmigas, nilai ekspor juga mengalami penurunan dari USD 22,46 miliar menjadi USD 21,06 miliar. Sebaliknya, impor nonmigas meningkat dari USD 17,96 miliar menjadi USD 20,45 miliar.

Meski demikian, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus pada September 2026 sebesar USD 202,25 juta. Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan nonmigas sempat mengalami defisit pada Januari sebesar USD 101,70 juta dan Februari sebesar USD 493,11 juta. Setelah itu, neraca kembali mencatatkan surplus hingga September.

Dari sisi negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar bagi Jawa Timur dengan nilai USD 1,94 miliar. Berikutnya Jepang sebesar USD 1,26 miliar dan Malaysia sebesar USD 925,73 juta.

Sebaliknya, Tiongkok menjadi negara penyumbang defisit perdagangan nonmigas terdalam dengan nilai USD 4,66 miliar. Disusul Brasil sebesar USD 786,76 juta dan Argentina sebesar USD 543,04 juta.


Perjalanan Wisatawan Domestik Turun, Kunjungan Wisman Meningkat

Pada sektor pariwisata, perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara menunjukkan arah yang berbeda.

Berdasarkan data pariwisata BPS Jawa Timur, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Timur pada September 2026 mencapai 38.602 kunjungan. Angka tersebut meningkat 18,18 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 32.664 kunjungan.

Berdasarkan negara asal, wisatawan dari Tiongkok mendominasi kunjungan mancanegara dengan kontribusi 38,04 persen. Malaysia berada di posisi berikutnya sebesar 23,95 persen, disusul Singapura 6,36 persen, Taiwan 2,14 persen, dan Jepang 1,93 persen.

Namun, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara tidak diikuti oleh perjalanan wisatawan nusantara. Pada September 2026, perjalanan wisatawan nusantara di Jawa Timur tercatat sebanyak 15,72 juta perjalanan, turun 6,89 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai sekitar 16,88 juta perjalanan.

Dari sisi perhotelan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 48,63 persen. Angka tersebut meningkat 0,26 poin dibandingkan September 2025 dan naik 0,23 poin dibandingkan Agustus 2026.

Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat sebesar 21,78 persen atau turun 0,84 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Adapun rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang Jawa Timur pada September 2026 mencapai 1,35 malam, meningkat 0,03 poin dibandingkan Agustus 2026.


Penumpang Pesawat dan Kereta Api Menurun

Sektor transportasi juga menjadi bagian dari indikator yang dipaparkan BPS Jawa Timur. Pada September 2026, pergerakan penumpang menunjukkan perkembangan berbeda pada masing-masing moda transportasi.

Untuk transportasi udara, jumlah penumpang domestik yang berangkat tercatat sebanyak 425,77 ribu orang, sedangkan penumpang datang mencapai 421,22 ribu orang.

Pada penerbangan internasional, jumlah penumpang berangkat mencapai 96,93 ribu orang dan penumpang datang sebanyak 95,24 ribu orang. Dibandingkan Agustus 2026, jumlah penumpang penerbangan domestik maupun internasional mengalami penurunan.

Sementara itu, angkutan barang domestik melalui udara mencatatkan muat barang sebanyak 3,27 ribu ton dan bongkar barang sebesar 1,48 ribu ton.

Pada transportasi laut, jumlah penumpang berangkat pada September 2026 mencapai 111,35 ribu orang, turun dibandingkan Agustus yang mencapai 113,69 ribu orang. Sebaliknya, jumlah penumpang datang meningkat dari 100,57 ribu orang pada Agustus menjadi 102,05 ribu orang pada September 2026.

Aktivitas angkutan barang melalui laut juga memperlihatkan pergerakan berbeda. Bongkar barang domestik meningkat dari 2,95 juta ton pada Agustus menjadi 3,41 juta ton pada September 2026. Namun, muat barang mengalami penurunan dari 2,64 juta ton menjadi 2,57 juta ton.

Adapun transportasi darat yang diukur melalui jumlah penumpang kereta api mencatatkan penurunan. Jumlah penumpang pada Agustus 2026 mencapai 2,53 juta orang, sedangkan pada September turun menjadi 2,32 juta orang atau berkurang sekitar 8,30 persen.


Pergerakan Ekonomi Antarsektor Berbeda

Paparan BPS Jawa Timur tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan ekonomi provinsi ini berlangsung dengan dinamika berbeda antarsektor. Peningkatan produksi padi dan NTP menjadi catatan positif dari sektor pertanian, meskipun tidak seluruh subsektor mengalami kenaikan.

Di sisi lain, perdagangan luar negeri masih menghadapi tekanan akibat penurunan ekspor dan peningkatan impor. Sementara pada sektor pariwisata, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara belum diikuti kenaikan perjalanan wisatawan nusantara. Tingkat penghunian hotel berbintang juga meningkat, sedangkan hotel nonbintang mengalami penurunan secara bulanan.

Pada sektor transportasi, penumpang pesawat dan kereta api mengalami penurunan, sementara aktivitas bongkar barang melalui laut justru meningkat. (ZAK)

Ekonomi Jatim Bergerak Tak Seragam, Pertanian Menguat tetapi Ekspor Melemah Ekonomi Jatim Bergerak Tak Seragam, Pertanian Menguat tetapi Ekspor Melemah Reviewed by KabarGress.com on November 03, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Sidebar Ads

Diberdayakan oleh Blogger.