“Semoga tumbuh dan berkembang menjadi Advokat yang baik… Aamiin.”
Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam bagi seorang ayah. Terlebih ketika doa itu datang dari seorang senior yang telah melewati panjangnya jalan pengabdian di dunia advokat. Aamiin ya Mujibas Sa’ilin, istajib du’aana. Semoga Allah Yang Maha Mendengar setiap doa, berkenan membuka jalan bagi putra bungsuku dalam menapaki dunia hukum yang baru saja dipilihnya sebagai jalan pengabdian.
Sebagai seorang ayah, tentu ada rasa bangga ketika melihat anak mulai menemukan jalan hidupnya. Namun di balik kebanggaan itu terselip kegelisahan yang tak selalu terucapkan. Dunia advokat bukan ruang untuk sekadar mengejar nama, jabatan, atau keberhasilan materi. Di sana ada hukum yang harus dipahami, keadilan yang harus diperjuangkan, serta manusia-manusia yang datang membawa persoalan, harapan, bahkan air mata.
Seorang advokat muda membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan membaca pasal. Ia membutuhkan keluasan literasi, ketajaman berpikir, keberanian menyampaikan kebenaran, sekaligus kejernihan hati agar tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan kepentingan. Sebab hukum tanpa nurani dapat berubah menjadi sekumpulan kata, sementara keberanian tanpa ilmu dapat menjelma menjadi kesombongan.
Karena itu, dari lubuk hati seorang ayah, saya menitipkan langkah putra bungsuku kepada para senior yang telah puluhan tahun berjalan di lorong panjang profesi advokat. Bimbinglah dia dengan ilmu, tegurlah ketika langkahnya mulai menyimpang, dan ajarkan kepadanya bahwa menjadi advokat hebat tidak selalu diukur dari berapa banyak perkara yang dimenangkan, tetapi dari seberapa teguh seseorang menjaga kehormatan profesinya.
Dalam pandangan sufistik, perjalanan mencari ilmu bukan hanya perjalanan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Lebih dalam dari itu, perjalanan ilmu merupakan perjalanan dari ego menuju kerendahan hati. Semakin seseorang memahami hukum, semestinya semakin sadar bahwa di hadapan kebenaran manusia tetaplah seorang pencari. Tidak ada ilmu yang membuat seseorang pantas merasa paling tinggi.
Barangkali itulah pelajaran pertama yang ingin saya titipkan kepada anak muda yang memilih advokat sebagai jalan hidup: jangan pernah berhenti belajar. Baca buku ketika orang lain sedang sibuk berbicara. Pelajari putusan ketika orang lain hanya melihat hasil perkara. Dengarkan senior ketika hati sedang merasa paling tahu. Dan dekatilah mereka yang telah lama berjalan, sebab pengalaman sering kali mengajarkan sesuatu yang tidak ditemukan di ruang kuliah.
Namun ada satu hal yang lebih penting dari semuanya: jagalah hati.
Jangan sampai profesi yang mulia berubah menjadi jalan untuk membesarkan ego. Jangan sampai kemampuan membaca hukum membuat kita lupa membaca penderitaan manusia. Jangan sampai kemenangan dalam perkara membuat kita kehilangan rasa kasih kepada mereka yang kalah. Sebab di balik setiap berkas perkara ada manusia yang sedang mempertaruhkan masa depan, keluarga yang sedang menunggu kepastian, dan hati yang mungkin sedang mencari sedikit keadilan.
Menjadi advokat, pada akhirnya, merupakan perjalanan panjang untuk belajar berdiri di antara hukum dan kemanusiaan. Ada saatnya harus tegas. Ada saatnya harus menahan diri. Ada saatnya berbicara dengan argumentasi, dan ada saatnya diam karena nurani mengatakan bahwa diam lebih dekat kepada kebenaran.
Untuk putra bungsuku, berjalanlah perlahan tetapi jangan pernah berhenti. Jangan takut menjadi advokat muda yang masih banyak belajar. Tidak ada senior yang lahir dengan pengalaman puluhan tahun. Semua pernah menjadi pemula. Semua pernah salah membaca keadaan. Semua pernah gugup menghadapi perkara pertama. Yang membedakan kemudian hanya kesediaan untuk terus belajar dan keberanian memperbaiki diri.
Dan kepada para senior advokat, dari seorang ayah yang hanya mampu mengiringi langkah anaknya dengan doa, saya memohon: berikanlah ruang bagi generasi muda untuk belajar. Wariskan ilmu, pengalaman, etika, serta keteladanan. Sebab kelak ketika generasi senior telah meninggalkan gelanggang profesi, generasi muda itulah yang akan menjaga nama baik dunia advokat.
Semoga perjalanan putra bungsuku menjadi perjalanan yang panjang dalam mencari ilmu, luas dalam pengalaman, kuat dalam prinsip, lembut dalam hati, dan teguh dalam membela kebenaran.
Jika suatu hari nanti dia berdiri di ruang persidangan dengan mengenakan toga kebanggaannya, saya tidak berharap dia menjadi advokat yang paling terkenal. Saya hanya ingin dia menjadi advokat yang ketika membela seseorang, hatinya tetap takut kepada Allah; ketika memenangkan perkara, hatinya tetap rendah; ketika menghadapi kekalahan, jiwanya tetap lapang; dan ketika menerima amanah, tangannya tidak pernah lupa bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Sebab pada akhirnya, setiap profesi hanyalah jalan. Yang membuatnya bernilai di hadapan Allah bukan seberapa tinggi seseorang berdiri di mata manusia, tetapi seberapa tulus langkahnya memberi manfaat bagi sesama.
Semoga tumbuh dan berkembang menjadi Advokat yang baik.
Aamiin ya Mujibas Sa’ilin, istajib du’aana.
Catatan Kehidupan @mas hery
Reviewed by KabarGress.com
on
Oktober 16, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: