SIDOARJO, KABARGRESS.COM — Malam mulai turun di Dusun Balong Pandan, Desa Jogosatru, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). Di batas desa, sebuah gapura baru berdiri kokoh, menjadi penanda bagi siapa pun yang memasuki wilayah Jogosatru.
Gapura setinggi 5 meter dengan lebar 4,25 meter itu diresmikan Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana. Bangunan yang menghabiskan anggaran Rp 100 juta itu berada di RT 6/RW 2, tepat di wilayah yang berbatasan dengan Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian.
Malam peresmian berlangsung dalam suasana berbeda. Warga tidak hanya menyaksikan seremoni peresmian, tetapi juga mengikuti tasyakuran atas hasil pertanian yang digelar masyarakat setempat.
Doa dan rasa syukur atas hasil panen menjadi bagian dari perhelatan malam itu. Setelahnya, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk menjadi hiburan sekaligus ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati kesenian tradisional.
Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Sukodono hadir dalam kegiatan itu. Camat Sukodono, Kapolsek Sukodono, Danramil Sukodono, dan Kepala Desa Jogosatru tampak mengikuti rangkaian acara.
Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo Pratama Yudhiarto juga hadir. Kehadirannya menjadi bagian dari dukungan terhadap pembangunan fasilitas penanda batas desa dan kegiatan masyarakat Jogosatru.
Mimik mengapresiasi pembangunan gapura yang berdiri kokoh di pintu masuk desa. Menurut dia, keberadaan bangunan itu dapat memperkuat identitas Jogosatru.
Bagi warga yang melintas, gapura itu akan menjadi penanda visual yang mudah dikenali. Dari bentuk dan ukurannya, bangunan tersebut juga memiliki potensi menjadi salah satu titik yang menarik perhatian masyarakat.
“Ini bagus karena bisa dijadikan tanda dan mungkin bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk destinasi foto selfie. Bangunannya sangat megah,” kata Mimik.
Mimik juga menyampaikan apresiasi kepada Pratama Yudhiarto atas gagasan dan kepeduliannya terhadap pembangunan gapura batas desa.
Di sisi lain, tasyakuran hasil pertanian menjadi bagian penting dari malam peresmian. Tradisi itu mempertemukan masyarakat dalam suasana syukur setelah melewati musim tanam dan panen.
Mimik menilai kegiatan seperti itu memiliki makna bagi kehidupan masyarakat desa. Hasil pertanian yang melimpah menjadi alasan untuk bersyukur sekaligus berharap agar musim tanam berikutnya berjalan lancar.
“Semoga musim tanam berikutnya diberikan kelancaran,” ujarnya.
Malam semakin larut ketika panggung wayang kulit mulai menjadi pusat perhatian. Lakon yang dimainkan membawa warga menikmati kesenian tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.
Bagi Mimik, pertunjukan wayang kulit yang terus digelar di tengah masyarakat memiliki arti penting bagi keberlangsungan budaya bangsa.
“Pertunjukan wayang kulit yang rutin sangat efektif menjaga kelestarian budaya bangsa,” katanya.
Peresmian gapura, tasyakuran panen, dan pertunjukan wayang kulit akhirnya bertemu dalam satu ruang. Pembangunan fisik desa berjalan beriringan dengan tradisi yang masih dirawat masyarakat.
Gapura itu kini berdiri di batas Jogosatru. Lebih dari sebuah bangunan penanda wilayah, kehadirannya menjadi bagian dari wajah desa sekaligus latar bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan, rasa syukur, dan warisan budaya. (Ery)
Reviewed by KabarGress.com
on
Agustus 30, 2026
Rating:


Tidak ada komentar: