Surabaya, KABARGRESS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat Jawa Timur mengalami deflasi pada Juli 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi melimpahnya produksi komoditas hortikultura yang menyebabkan harga sejumlah bahan pangan, seperti cabai, mengalami penurunan. Di sisi lain, BPS menilai kondisi ini justru berdampak positif terhadap daya beli masyarakat.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati, M.M, saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Jawa Timur, Surabaya, Senin (3/8/2026).
Dalam pemaparannya, Herum menyampaikan BPS merilis lima indikator utama, yakni perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, pariwisata, dan transportasi.
Menurutnya, deflasi yang terjadi pada Juli bukan disebabkan melemahnya konsumsi masyarakat, melainkan karena meningkatnya pasokan hasil pertanian.
"Deflasi ini menggambarkan bahwa produksi di Jawa Timur sedang melimpah, terutama komoditas hortikultura. Karena curah hujan tidak terlalu tinggi, hasil panen seperti cabai menjadi sangat banyak. Ketika pasokan melimpah sementara kebutuhan relatif tetap, harga otomatis turun," ujar Herum.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut memiliki dua dampak berbeda. Dari sisi petani, harga jual memang mengalami penurunan, namun volume panen yang meningkat tetap memberikan hasil produksi yang lebih besar.
Sementara bagi masyarakat sebagai konsumen, harga pangan yang lebih murah justru membuat kemampuan membeli meningkat.
"Kalau dari sisi konsumen yang bukan petani tentu diuntungkan karena harga turun sehingga daya belinya meningkat," jelasnya.
Herum menegaskan, deflasi kali ini tidak bisa langsung dimaknai sebagai pelemahan ekonomi ataupun turunnya daya beli masyarakat.
Menurutnya, perlu melihat penyebab utama pergerakan harga sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi ekonomi.
Selain membahas inflasi dan deflasi, BPS juga mencatat perkembangan sektor perdagangan luar negeri. Nilai ekspor Jawa Timur pada Juni 2026 mengalami penurunan yang terutama dipengaruhi melemahnya ekspor komoditas emas dan perhiasan.
"Penurunan ekspor terutama karena komoditas emas. Volumenya turun dan harganya juga mengalami penurunan cukup besar. Padahal emas dan perhiasan merupakan komoditas ekspor utama Jawa Timur sehingga sangat memengaruhi total ekspor," terang Herum.
Selain emas, tembaga juga menjadi salah satu komoditas utama ekspor Jawa Timur yang ikut memengaruhi pergerakan nilai perdagangan luar negeri.
Sementara itu, pada sektor pariwisata, BPS mencatat tingkat hunian hotel di Jawa Timur mengalami peningkatan selama Juni 2026. Kenaikan tersebut dipicu momentum libur sekolah serta meningkatnya aktivitas pertemuan yang digelar instansi pemerintah maupun swasta di berbagai hotel.
Herum menjelaskan, seluruh hotel berbintang di Jawa Timur menjadi objek pencatatan BPS, sedangkan hotel nonbintang menggunakan metode sampling.
"Kenaikan okupansi yang kami sampaikan merupakan data Juni. Saat itu ada libur sekolah, kemudian banyak pelatihan BPS serta kegiatan meeting dari pemerintah maupun swasta yang berlangsung di hotel-hotel sehingga jumlah tamu menginap meningkat," katanya.
Ia menambahkan, indikator okupansi hotel yang digunakan BPS dihitung berdasarkan jumlah tamu yang menginap, bukan berdasarkan besaran pendapatan hotel.
Herum berharap masyarakat dapat memahami bahwa perubahan harga tidak selalu menjadi indikator melemahnya ekonomi. Menurutnya, kondisi deflasi akibat produksi pangan yang melimpah justru memberikan keuntungan bagi masyarakat sebagai konsumen karena kebutuhan pokok dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau. (ZAK)
Reviewed by KabarGress.com
on
Agustus 03, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: